Tuesday, June 25Lirik, News dan Review

Menikmati Musik Tanpa Suara? Bisa? Bisa Donk!

Kalau ada yang pernah ingat mimin pernah berbagi info soal Endang Soekamti yang merilis video untuk setiap lagunya di album Salam Indonesia dalam bahasa Isyarat, pastinya gak bakal asing dengan ini. Malah sekarang, beberapa artis dikala melakukan penampilan juga menggunakan bahasa isyarat sebagai bentuk perduli mereka terhadap Tunarungu.



Sudah pasti banyak pertanyaan, bagaimana mereka menikmati irama dan nada dari musik? Menjawab hal ini ada jawaban dan tindakan yang unik dari orang yang lebih senang disebut ‘Tuli’ ketimbang Tunarungu bernama
Galuh Sukmara Soejanto yang akrab dipanggil Bunda Galuh. Ia adalah ahli dalam bahasa Isyarat yang mengalami susah dan dukanya menjadi seorang yang tuli.

Karena kondisinya, Ia memerlukan waktu 10 tahun untuk menyelesaikan pendidikan di Universitas Gajah Mada dimana fasilitas baik sarana dan prasarana untuk orang seperti dirinya bisa dibilang sangat kurang. Barulah ketika Ia melanjutkan pendidikannya di La Trobe University, Melboune, Australia, Ia mendapatkan hal-hal yang memang dibutuhkan bagi orang tuli (baca teman tuli) untuk menyerap pendidikan dengan lebih informatif dan juga “komunikatif”.

Berbekal segala pengalaman dan ilmu yang Ia miliki, ada satu cara yang sangat bisa dibilang cukup masuk akal dan emosional bagi teman tuli dalam menikmati musik. Bunda Galuh menempelkan tangannya pada pengeras suara (speaker) takala “mendengarkan” musik. Melalui hal tersebut Bunda Galuh dapat merasakan emosi lagu yang berasal dari getaran yang muncul yang merupakan irama naik-turunnya sebuah lagu.

Kemudian setelah itu Bunda Galuh menerjemahkannya menjadi Bahasa Isyarat Sastra yang dapat kita lihat pada video klip Yura Yunita berjudul Merakit, versi bahasa Isyarat. Dalam video klip tersebut kita juga diajak untuk merasakan pengalaman teman tuli dimana bagian awal lagu, audio dimatikan agar ikut merasakan sedikit pengalaman teman tuli dalam menikmati musik.

Pada proses pembuatan video klip Merakit, Bunda Galuh juga memperkenalkan tehnik lainnya yakni menempelkan telapak tangannya pada dada Yura yang fungsinya sama atau malah lebih terasa bagi Bunda Galuh untuk menterjemahkannya menjadi bahasa isyarat yang memiliki “melodi” tersendiri bagi teman tuli.


https://www.instagram.com/p/BxRSIZ7l1Nq/

Bila ada pertanyaan selanjutnya, apakah teman tuli akan mendengarkan lagu yang sama dalam artian irama, melodi dan nadanya. Sejujurnya Mimin rasa akan ada perbedaan. Namun hal yang terpenting adalah Rasa. Dengan cara yang dipraktekkan Bunda Galuh, bahasa isyarat yang ditransformasikan menjadi suguhan “seni musik” dapat mengantarkan rasa yang lebih mendalam dari bahasa isyarat untuk berkomunikasi sehari-hari.

Mau coba pengalamannya? Coba tonton di bawah nih video klip Yura Yunita Merakit versi bahasa isyarat hasil kolaborasi bersama Bunda Galuh.


” Teman-teman terima kasih banyak ya sudah menyaksikan video bahasa isyarat Merakit. Semoga bahasa isyarat semakin meluas lagi. Ayo kita belajar bahasa isyarat bersama!” – Yura Yunita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: