Friday, February 15Lirik, News dan Review

Apa yang salah dari RUU PERMUSIKAN?

Didiamkan semakin ramai. Diramaikan semakin liar tak terarah. Mendukung sudah jelas salah. Tapi respon yang didominasi amarah malah makin memperparah. RUU Permusikan

Sudah jelas apa yang salah? Pemahamannya yang jadi akar masalah. Sehingga ujung-ujungnya jadi menyalahkan, menghakimi, mendominasi duduk perkara dengan pengetahuan yang terbilang kurang.

Musisi yang memiliki waktu dan uang baik mereka yang berlabel atau tidak seyogyanya bila memang perduli dan sigap, langsunglah datangi dan kontak “orang musik” yang bersangkutan. Bukan hanya dengan cuitan atau hashtag, namun berdiskusi dan bermusyawarah dengan subjek yang bersangkutan.

Berkarya memang tidak butuh batasan. Hanya saja yang sebenarnya menjadi inti permasalahan dari hal yang sedang terjadi adalah ‘mekanisme penghargaan’. Hal itulah yang editor lihat dari penjelasan dari mereka yang sibuk memperjuangkannya.

2 video di bawah dari Anji adalah hal yang WAJIB kalian tonton dahulu sebelum berpendapat. Kemudian cari info lengkap dan DIBACA apa saja isi dari ‘Draft’ RUU tersebut. Terlebih GARIS BAWAHI ini adalah DRAFTbahkan belum masuk menjadi rancangan.

Ibarat hendak pergi keluar rumah, pintunya pun belum dibuka, apalagi satu langkah kaki. Baru sebatas pembicaraan akan tujuan sambil ngopi dan nonton TV.

Tidak bisa dipungkiri mayoritas sosial media sudah terpenuhi oleh banyak sekali penolakan. Ketidak-butuhan akan kehadiran “pelindung” dan sistem yang teratur dalam menjalani karir sebagai musisi.

Faktanya tidak semua menolak. Lebih tepatnya, menolak bukanlah hal yang tepat dalam peristiwa ini, tapi berdiskusi kembali dan meneliti bersama-sama. Kalian bisa lihat dan contoh apa yang dituliskan oleh Erix Soekamti, Glenn Fredly dan Polkawar di bawah ini.

View this post on Instagram

Gimana? Bingung ya nama Ku ada di Koalisi Nasional Tolak RUU permusikan? . Jd klo mau cari aman, Uplotlah poto ini. posisi gak aman skrg itu klo berbeda pandangan. . Sdh baca RUU permusikan? Musisi mana yg akan setuju dengan itu? Jelas gak ada. Termasuk Aku. Tapi ya gak harus mencemooh tanpa membari masukan. . Yg Aku gak setuju adalah “cara” penolakannya yg lebay. Cacian ,hinaan, bullyan itu sdh tdk dalam koteks diskusi membangun. Tegas itu perlu, frontal jg oke tapi klo lebay jangan. apa lagi sampai menebar kebencian. . Lalu apanya yg direvisi? Ya jelas Isinya wong semua gak setuju. (Part ini bagian dari opini Ku pribadi) Klo undang2nya masih perlu. Sekali lagi “Undang Undangnya”. tujuannya untuk melindungi & menyejahterakan musisi sesuai dengan kesepakatan bersama. . Kami cukup mandiri kok. Dalam segala hal gak cuma di musik. di support pemerintah Alhamdulillah, gak pun jg Kami tetap jalan seperti biasanya. . Merdeka!

A post shared by Erix Soekamti (@erixsoekamti) on

“Cacian, hinaan, bullyan itu sudah tidak dalam koteks diskusi membangun. Tegas itu perlu, frontal juga oke tapi kalo lebay jangan. Apalagi sampai menebar kebencian.” Erix Soekamti

View this post on Instagram

‪Sikap kami dalam #TolakRUUPermusikan.

A post shared by Polka Wars (@polkawars) on

Menyikapi dengan Kepala Dingin Ya Coi, Bareng Kelapa Dingin Juga Boleh, Wuenak.

View this post on Instagram

Bila mau dibilang sebagai sebuah industri musik di tanah air ini yang sudah berjalan lebih dari 50 tahun yang terlewatkan adalah Pengelolaan dan perlindungan terhadap ekosistemnya, bila bicara perangkat UU yang sudah ada dan memayungi musik antara lain adalah UU no.28/2014 tentang HAK Cipta ( UU ini pun bukan hanya untuk musik saja tapi ada lintas seni lain ) UU no.5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ( Ini menurut saya produk UU yang keren, dari penjelasan, pengelolaan sampai pemanfaatan, pendataan semua jelas ) Yang paling terakhir di 2018 adalah UU tentang Serah Simpan karya cetak & karya rekam.. Karena RUU Permusikan ini adalah usulan dari DPR maka inisiatif ini perlu dikawal dan dikaji lebih mendalam supaya keberadaannya bila nantinya ingin jadi Produk UU tidak tumpang tindih dengan keberadaan UU yang sudah saya sampaikan di atas. Makanya @kamimusik_id sebagai non profit organization beserta @koalisiseni mengawal sejak ada insiatif RUU Permusikan ini. Yang kami usulkan adalah fokus terhadap tata kelola industri musiknya bukan pada hal-hal diluar itu ( misal kebebasan berekspresi ).. Contoh masalah tata kelola, ada seorang lulusan pendidikan musik ( Univ,Institut,SMK dll ) ,pertanyaan berikutnya lulusan ini kemudian akan kemana dalam ekosistem musiknya? Apakah ada guidence untuk masuk dalam industri musik kita? Gue bisa jawab tidak, kalopun ada semua cari jalan sendiri-sendiri. Kemudian sumbangan musik ke Pedapatan Domestik Bruto negara kita menurut data dari BEKRAF, kontribusi musik masih dibawah 1% artinya kecil sekali, contoh pendapatan dari aktifitas musik Bli @jrxsid digabung Glenn Fredly dan teman-teman musisi yang lainnya dimata negara kecil kontribusinya dan akhirnya belum jadi skala prioritas akibat tata kelola industri musik yang tidak jelas.Lebih lanjut bagaimana nasib crew, enginer, pengajar dll dalam posisi tata kelola ini ? Di KTP saja profesi kita pilihannya hanya Seniman ( saya pengennya jelas musisi ), Artinya musik sesebagai sebuah profesi ini masih abu-abu.Maka bila ingin jadi RUU baiknya fokus pada Tatakelola industri musik.Industri ini ada karena #berangkatdarisebuahlagu , itu sebabnya tatakelola industri musik harus dibenahi.

A post shared by Glenn Fredly (@glennfredly309) on

unggahan telah dihapus

“Bagaimana Nasib Cew, Enginer, Pengajar, dll. Dalam Posisi Tata Kelola Ini? Maka Bila Ingin Jadi RUU Baiknya Fokus Pada Tata Kelola Industri Musik. Industri Ini Ada Karena Berangkat Dari Sebuah Lagu” Glenn Fredly

Sepertinya cukup untuk bahasan apa yang ramai beberapa hari ini. Jujur saya termasuk yang menganggap banyak “kelebayan” terjadi baik di Sosial Media maupun pada kehidupan Sosial Nyata. Kalau musik dijadikan nada untuk mencemooh tanpa ada pendalaman dan klarifikasi, sebagai penikmat saya malah sedih.

Perduli dengan musik? Pelajari dulu hal yang terjadi, kenali diri sendiri, tunjuk diri sendiri, tanyakan apa yang sudah kita berikan untuk musik yang kita cinta. Intinya adalah apa yang ditulis pada paragraf pertama pada artikel ini mendukung sudah jelas salah tapi respon yang didominasi amarah malah makin memperparah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: