Friday, May 24Lirik, News dan Review

Andai Dunia Politik Seperti Dunia Musik

Pembelajaran adalah kata kunci dari tragedi yang terjadi di negeri pertiwi kita, Indonesia. Seperti yang kita tahu, di penghujung tahun 2018 ini tepatnya pada Sabtu malam tanggal 22 Desember, bencana Sunami (non-gempa) menerjang pantai di Banten dan Lampung. Memakan korban yang tidak sedikit dengan berbagai profesi, suku dan agama. Diantaranya adalah pegawai negeri, artis komedi dan yang akan kita bahas di sini, Musisi.

View this post on Instagram

Terimakasih Kawan Seventeen.. 🙏🙏🙏🙏 . @ks_indonesia – Kami dari KAWAN SEVENTEEN INDONESIA Mewakili Gitaris Bang Herman, Bassist Bang Bani, Drummer Bang Andi, Road Manager Bang Oki dan Crew Bang Ujang serta Kak Dylan (Istri Bang Ifan). . Kalau @seventeenbandid selama 20 tahun kurang 20 hari, mereka dalam berkarya ada salah tutur kata maupun perbuatan yang kurang berkenan, Kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya. . Mohon do'anya untuk Bang Herman, Bang Bani, Bang Andi, Bang Oki, Bang Ujang, dan Kak Dylan semoga mereka husnul khotimah dan ditempatkan disisi Allah yang paling mulia. Kami sayang mereka tapi Allah lebih sayang mereka. . Dan buat Bunda @julianamoechtar istri Bang Herman, Bunda @cindriwhy istri Bang Bani, Bunda @dewi_windu istri Bang Andi, Bunda Novi istri Bang Oki, Bunda Dewi Puspita istri Bang Ujang, dan Bang @ifanseventeen suami Kak Dylan. Kuat, tabah dan ikhlas, almarhum dan almarhumah sudah tenang di syurga-Nya. . Bang Ifan yang kuat, tabah, tegar, sabar, ada kami KAWAN SEVENTEEN, akan selalu ada disamping abang, mensupport abang. Keep strong yaaa bang. Terima kasih karyamu dan dedikasi kalian yang telah menghibur kami Kawan Seventeen & Masyarakat Indonesia. . Sekali lagi mohon beribu maaf apabila ada kesalahan almarhum dan almarhumah dan mohon do'anya. . WE ARE SEVENTEEN! SEVENTEEN & KAWAN SEVENTEEN . #WeAreSeventeen #SeventeenBand #SeventeenBandID #KawanSeventeen #SeventeenBerduka

A post shared by SEVENTEEN Band (@seventeenbandid) on

Seventeen adalah salah satu dari mereka yang berprofesi sebagai musisi yang langsung tertimpa bencana tersebut dan telah merengut bukan hanya nyawa personil, namun juga sanak saudara dan kru band yang terlibat.

Riefan “Ifan” Fajarsyah adalah satu-satunya personil Seventeen yang selamat dari bencana. Personil lainnya yakni
M. Awal “Bani” Purbani – bass
Herman Sikumbang – gitar
Windu Andi Darmawan – drum
Dipanggil oleh yang Illahi dalam peristiwa yang tak pernah diharapkan dan terjadi pada acara yang seharusnya diperuntukkan untuk menghibur “kumpul-kumpul keluarga karyawan” PT PLN Transmisi Jawa Bagian Barat.

Rasa sedih kian bertambah bagi Ifan ketika faktanya sang istri tercinta pun harus terlebih dahulu meninggalkannya di dunia setelah akhirnya ditemukan tak bernyawa kurang lebih 4 hari kemudian dari tanggal terjadinya bencana.

Apa yang ramai dan kisruh dari peristiwa yang telah terjadi?

  • Simpang siur informasi soal bencana
  • Mencari kambing hitam akan bencana
  • Bongkar aib mereka yang telah tiada

Hal-hal di atas akan kita temukan di kolom komentar maupun postingan para netijen yang sudah tak punya hati atau barangkali lupa memiliki hati nurani. Buruknya komentar tanpa hati tersebut datang untuk suatu kepentingan. Seperti salah satunya adalah menyalahkan pemerintah dan yang berwenang atas bencana yang terjadi, menjurus sebab bencana kepada salah satu pihak maupun orang dan untuk menunjukkan diri sendiri lebih suci daripada mereka yang tertimpa bencana.

Satu hal yang pasti, rekan sesama musisi dan artis yang berkecimpung di dunia seni dan hiburan tak satupun melontarkan hal-hal tersebut. Satu contoh nyata yang seharusnya ditiru oleh para manusia yang sibuk dengan layar kaca dan layar gengggam.

Kendati berbeda jenis musik, agama, suku, label, perusahaan dan bahkan ada yang belum pernah bertemu ataupun mengenal para anggota Seventeen, hal utama yang mereka sampaikan adalah ikut merasakan kesedihan atas apa yang telah terjadi.

Bagaimana, kenapa, siapa dan apa bukanlah pikiran utama mereka. Ketika datang “kesedihan” seperti ini, ucapan dan doa adalah yang terlontar spontan takala kabar duka diterima. Setelahnya bukan mencari kesempatan dalam keruh dan kisruh, namun mengajak seluruh penggemar dan penikmat musik untuk turut berdoa agar mereka.

Tak ada kepentingan, hanya nurani yang bersimpati dan empati bukan antipati. Jika saja dunia politik sama seperti ini kita akan menjadi negara yang perduli sesama ketimbang kekuasaan, kekayaan dan gengsi pribadi maupun golongan.

Parade caci maki akan berubah menjadi ujaran puji dan diskusi berisi, demi kemakmuran satu negeri bukan hanya satu provinsi apalagi diri sendiri yang ternyata ada tujuan untuk “memiliki”.

Andai, dunia dan situasi politik bisa menjadi seperti apa yang dilakukan oleh para musisi mungkin “perintah” utama yang akan dikeluarkan adalah untuk bersimpati dan berempati juga saling membantu tanpa pandang jabatan atau siapa yang menjabat. Hanya rasa saling hormat dan sigap dalam membantu sesama demi kemakmuran bersama di negeri tercinta, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: