Sunday, December 17Lirik, News dan Review

Together Whatever Sessions, Efek Rumah Kaca Show

Efek Rumah Kaca
foto Rollingstone.co.id

Penampilan Efek Rumah Kaca di Eighty Nine, Jakarta pada Rabu 29 Agustus berjalan sedikit berbeda dari biasanya. Sebelum grup asal Jakarta tersebut mulai bermain, sejumlah layar televisi memasang video berisi cuplikan-cuplikan dari satu dekade yang lalu, ketika Efek Rumah Kaca hendak melepas album debut mereka yang juga berjudul Efek Rumah Kaca. Terlihatlah vokalis-gitaris Cholil Mahmud, drummer Akbar Bagus Sudibyo dan bassis Adrian Yunan Faisal masih dalam keadaan kurus di usia 30 tahun dan sibuk mempersiapkan album pertama itu. Setelah beberapa menit berlalu terdapat adegan mereka sedang bermain di sebuah kafe kecil di Bali pada bulan Agustus 2007. Dengan sedikit malu-malu, Cholil mengumumkan kepada penonton, “Kami Efek Rumah Kaca. Sebentar lagi mau rilis album. Lagu pertama, judulnya ‘Jalang’.”

Yang beruntung hadir di Eighty Nine pada malam itu tak hanya disuguhkan ke-12 lagu Efek Rumah Kaca sebagaimana dibawakan oleh formasi panggung ERK terkini yang mencakupi Cholil, Akbar, Airil “Poppie” Nurabadiansyah (bas, vokal), Dito Buditrianto (gitar), Agustinus Panji Mardika (terompet, vokal), Muhammad Asranur (keyboard) dan trio vokalis latar Irma Hidayana, Nastasha Abigail dan Cempaka Surakusumah. Mereka juga bisa mendengar Cholil berbagi kisah-kisah menarik dan kocak seputar lagu-lagu di album tersebut.

Misalnya, mengenai nyanyian misterius yang membuka lagu “Jalang”, Cholil mengaku terinspirasi oleh mitos tentang sebuah lagu Led Zeppelin jika dipasang secara terbalik. “Itu lirik ‘Siapa yang berani bernyanyi, nanti akan dikebiri’ dibalik. Kalau ‘Stairway to Heaven’ kayak lagu setan, kami kayak lagu orang mengaji,” katanya.

Lalu ada “Efek Rumah Kaca”, yang kemudian dijadikan nama band setelah beberapa nama yang sempat mereka gunakan ternyata sudah dipakai oleh band-band lain sehingga mereka memutuskan untuk mengambil nama dari judul lagu yang sudah ada. Pilihan jatuh ke Efek Rumah Kaca karena “‘Belanja Terus Sampai Mati’ nggak cocok jadi nama band. Kami coba pakai setahun, dua tahun, 10 tahun nggak ada yang memakai nama band Efek Rumah Kaca, ya sudah, kami teruskan saja,” kata Cholil.

Mengenai “Melankolia”, lagu yang dianggap sebagai pencetus karakter musik Efek Rumah Kaca, Cholil bercerita, “Kami lama cari karakter band, musiknya mau kayak bagaimana, liriknya bagaimana. Itu nggak ketemu-ketemu sampai kami menciptakan ‘Melankolia’. ‘Melankolia’ terinspirasi dari ‘Terbunuh Sepi’-nya Slank. Walaupun beda kord, tapi sebenarnya mood-nya hampir sama. Setelah menciptakan ‘Melankolia’, ‘Ah iya, kayaknya kita harus main kayak begini saja. Mainnya nggak susah, auranya gelap-gelap ada manis-manisnya.'”

Ada juga kisah lucu seputar “Cinta Melulu”, lagu penyindir merebaknya tembang-tembang cinta yang melejitkan nama Efek Rumah Kaca dan membuat mereka berada dalam berbagai situasi ironis. “Mungkin gara-gara pernah diputar di MTV, sempat juga di era itu main di acara-acara musik siang-siang, di antara band-band yang membawakan lagu-lagu cinta, dan band-band lain nggak menyadari kalau lagu itu bukan soal cinta! Di belakang panggung, mereka yang, ‘Asyik, bro! Mantap, bro!’ Mereka nggak dengar gue nyanyi apa, ya?” kata Cholil.

Cholil Mahmud, vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca. (foto: Dok. Together Whatever)

Walau membawakan album klasik dari awal hingga akhir adalah hal yang cukup lazim di dunia musik sekarang, konser-konser dengan konsep itu seringkali berujung dengan antiklimaks jika lagu-lagu yang ternyata menjadi hit lebih banyak terdapat di awal album. Metallica mengatasi dilema ini saat membawakan The Black Album di tahun 2012 dengan membalikkan urutan lagunya, sementara U2 menambahkan beberapa lagu lagi sebelum dan sesudah memainkan The Joshua Tree pada tur tahun ini. Tapi Efek Rumah Kaca tidak menghadapi persoalan itu pada Efek Rumah Kaca, karena lagu-lagu klimaksnya justru terdapat di paruh kedua album, apalagi dengan semakin populernya “Sebelah Mata” belakangan ini. “Lagu ini kalau kami mainkan di daerah cukup terbantu dengan bandnya Gerald Situmorang,” kata Cholil sambil menunjuk ke bassist Barasuara yang turut hadir di antara penonton. Berkat kolaborasi Barasuara dan ERK dua tahun lalu di mana “Sebelah Mata” mengalami perubahan aransemen, kini penonton pertunjukan ERK ikut menyanyikan bagian solo gitar lagu tersebut.

Sebelum membawakan “Desember”, lagu terakhir di album yang juga biasanya menjadi lagu penutup di pertunjukan-pertunjukan Efek Rumah Kaca, Cholil kembali mengenang masa-masa saat ERK masih belum jadi apa-apa. “Dari 2001 sampai 2005, masa-masa kelam di mana kami latihan terus, kalau albumnya kacrut, ya sudah, kami akan kerja, latihan, nonton band. Kira-kira masa depannya begitulah. Mungkin ada di situ menonton juga bersama kalian,” katanya. “Mudah-mudahan ada teman-teman di sini yang tertarik untuk ngeband dengan serius dan bisa ada di panggung ini.”

Dengan demikian, berakhirlah pertunjukan Efek Rumah Kaca di Together Whatever Sessions, yang juga adalah salah satu kesempatan terakhir untuk menyaksikan mereka bermain dalam suasana intim di tahun ini sebelum Cholil kembali bermukim di Amerika Serikat bersama keluarganya. Mudah-mudahan tahun depan album Kamar Gelap juga bisa dibawakan secara utuh pada ulang tahunnya yang kesepuluh.

Sementara itu, agar tidak ketinggalan pertunjukan spesial berikutnya dalam rangkaian Together Whatever Sessions, pantau terus togetherwhatever.id.

Setlist:
“Jalang”
“Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”
“Bukan Lawan Jenis”
“Belanja Terus Sampai Mati”
“Insomnia”
“Debu-debu Berterbangan”
“Di Udara”
“Efek Rumah Kaca”
“Melankolia”
“Cinta Melulu”
“Sebelah Mata”
“Desember”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: